Wednesday, June 26, 2024

Narasi Parafrase #1

 SETIAP KITA, PASTI MENGALAMI KEGAGALAN. 

Misterherisugi


  Bagaimana kabar kita hari ini? Apakah yang semua peluh akhirnya luruh? Atau masih ada lelah yang berujung menyerah? Tidak apa-apa kalau misalnya hari ini kita belum bisa, kita tak sempurna karena kita manusia. Untuk pundak yang mungkin sudah lelah menahan beban yang datang tanpa perintah, juga untuk mata yang kadang airnya sering jatuh begitu saja. Tubuhmu mungkin penat, tidak ada salahnya untuk duduk sebentar dan kembali menatap matahari. Besok masih banyak yang harus dikejar, jangan habiskan dirimu sehari ini saja. Semua akan berlalu, satu persatu. Biar air matamu reda dulu, baru nanti kita coba lagi. 

 Tak ada salahnya bangga dengan diri sendiri. Setidaknya berikan penghargaan kecil untuk dirimu itu, jiwanya larut dalam kalut. Di bumi ini manusia akan terus berputar di atas rodanya masing-masing. Jangan jadi apa yang belum tentu pantas untuk dirimu, jiwa kita indah dengan bajunya sendiri. Coba lihat lagi dirimu yang sudah pernah menari di atas luka. Sejauh ini kamu bisa, ‘kan? Hanya mungkin, jalanmu masih jauh di depan sana. Tapi tidak ada yang tahu indahnya berada di depan orang. Makanya, jadilah seseorang yang layak didengar dan layak dicinta. Tak mengapa jika hari ini kita gagal. 

 Terima kasih untuk setiap luka dengan guratan-guratan senja yang mengungkung semesta. Setelah hari ini, akan ada sinar yang mengarah ke sorot matamu. Biar nanti terang, biar nanti rindang, agar hadirmu bisa menjadi tempat meneduh untuk semua orang. Tak ada yang salah, hanya mungkin kamu lelah untuk mengubah. 

 Pada dasarnya setiap percobaan adalah sebuah harapan. Yang dimana harapan itu bisa terbang dan juga patah, tergantung bagaimana kamu merawatnya. Kalau terlalu keras bisa patah, dan kalau terlalu lembut juga bisa manja. Jadi, sekarang tidak perlu untuk pura-pura bahagia. Jika menangis bisa membuatmu tenang, maka menangislah. Jika menghilang menjadikanmu aman, maka pergilah. Kamu tidak harus memaksa apa-apa yang tidak semestinya. 

 Rindulah barang sejenak, rindukanlah lagi sosok dirimu yang dulu. Kemana kamu yang pernah gagah? Kenapa sekarang tak nampak? Apa semesta terlalu mengekang? Atau mungkin masalah-masalah yang datang, merebut jiwamu yang pernah tenang? Seseorang hanya butuh makan ketika dia lapar, seseorang hanya butuh minum ketika dia haus. Sesederhana itu saja sebenarnya. Tapi kenapa harus repot saat makan tak ada yang mengingatkan? Setiap kamu, tidak butuh perintah untuk melakukan hal-hal yang semestinya, hanya sedikit nikmati setiap udara yang kita embus, akan menjadi indah karena kita tahu bagaimana caranya memeluk semesta. Tuhan sudah memberikanmu waktu 24 jam untuk bernapas, untuk sekadar lima menit berterima kasih saja kita sering lupa.

  Manusia kadarnya hanya meminta, dan Setiap jalan yang sudah terbentuk itulah hasil ciptaan karya Tuhan yang paling sempurna. Dari kisah rumit yang kadang menyengsarakan, dari perihal rumah yang kadang tidak seharmonis dengan yang lainnya, sampai kisah kasih yang belum jelas di mana titik bahagianya, kita tidak pernah tahu apa-apa yang telah ada di depan sana, meski samar-samar kewajiban kita hanya berusaha. Jika tak bisa berlari, tak mengapa sambil berjalan pelan-pelan dan berhenti sejenak, siapa tahu sebentar lagi sampai. Gagal itu kisah, sedangkan usaha itu goresan-goresan luka yang akan mewarnai sebuah kisah. Cerita tidak akan indah tanpa jatuh, patah, menunggu, hilang, bahkan lebam. Semoga ceritamu bisa berakhir menyenangkan, senang bisa membantu untuk menenangkan. 

Rindu

Sebagian orang percaya bahwa ‘seseoranglah’ yang menjadi titik fokusnya. Namun mereka lupa, bahwa rindu itu terjadi tak lepas dari sebuah kenangan manis. Tanpanya, bagaimana bisa disebut rindu?

Benci.

Sebagian orang percaya bahwa ‘seseoranglah’ yang menjadi titik fokusnya. Namun mereka lupa, bahwa benci itu terjadi tak lepas dari sebuah kenangan pahit. Tanpanya, bagaimanapun bisa disebut benci?

No comments:

Post a Comment