Thursday, June 27, 2024

NARASI PARAFRASE #2

BINTANGKU TERLALU REDUP UNTUK TERBANG BERSAMAMU


Misterherisugi


***

Setidaknya jika kita tidak bisa menyatu, kita masih bisa bertemu. Mungkin hanya sekadar menanyakan, “Hai apa kabar?” Aku benar-benar tidak apa-apa, kalau memang harus pergi, itu memang sudah seharusnya. Hadirku selama ini mungkin saja sebagai pelengkap. Terima kasih sudah pernah menjadi tokoh utama dalam ceritaku. Kamu baik, kamu lucu. 

***


Kita semua pasti pernah punya seseorang yang pandai mengajak kita terbang ke angan-angan. Berdiri bersama, sampai sesekali lupa bahwa jatuh adalah sebuah kepastian. Kita tahu, sejauh ini mungkin kita hanya sedang dimainkan oleh semesta. Dunia memang begitu, isinya hanya seputar patah hati yang berkelanjutan. 

Manusia-manusia bumi terkadang suka bercanda yang berlebihan. Misalnya masalah hati, tolong jangan terlalu manis. Karena hadirmu saja sudah cukup, atau mungkin sepertinya dia tidak manis. Kadang diri sendiri harapannya berlebihan, tolong jangan buat aku terbang terlalu tinggi karena aku takut jatuh sendirian. Kau tahu pasti, bahwa sayapku ini mudah patah. Sakit sehari tidak cukup setahun untuk menyembuhkannya. Jujur aku takut terbang sendirian, tapi anganku tak mungkin kubiarkan sendiri. Tidak harus dengan kamu, bagiku hadirmu di bumi saja sudah cukup. 

Dulunya aku ini periang, tapi entah mengapa semenjak aku tahu bahwa di bumi ada kamu, aku jadi mudah rapuh bahkan mudah menangis tanpa sebab. Saat aku sedang patah-patahnya, terkadang tidak satu pun orang yang tahu karena aku takut merepotkan banyak hati, termasuk kamu. Kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan bahu, bayanganmu tersenyum saja sudah cukup buatku. 

Aku tidak tahu seberapa jauh lagi aku terbang. Kamu terlalu baik. Kamu memang tak tahu perihal ini, karena semua ini adalah hal yang rumit. Beberapa kali aku sering berdiskusi tentangmu dengan hatiku sendiri. Katanya dia bingung, tuannya begitu payah. Aku ingin turun, udara di atas langit begitu jahat. Aku belum siap bertahan dengan ribuan bintang lainnya. Bintangku ini terlalu redup, tidak pantas untuk langitmu yang megah. Lihat, bintang-bintang yang lain cahayanya terlalu terang, membuatku silau. 

Mungkin dengan cahaya bintangku yang redup ini, aku tak akan terlihat. Tapi kau tahu, untuk terbang sejauh ini sangatlah susah. Aku harus menghabiskan tenagaku, karena untuk terbang sendirian butuh angan yang selalu bisa menguatkan. Di dalam anganku tadi ada kamu, semoga anganmu siap menerima hadirku atau kurasa jangan. Ya, lupakan. Sebaiknya aku harus jatuh, tak layak kuberada di sini.

Lupakan diksiku tadi, anggap saja aku sedang bercanda. Terima kasih, ya. Aku pamit. Kalau tidak merepotkan, tolong lupakan aku dan biarkan bintangku jatuh agar aku bisa menjadi permohonan untuk orang lain, itu akan lebih bermanfaat bagiku. Karena setelahnya aku akan hilang. Setidaknya ada harapan yang kubawa, harapan orang lain. Pada akhirnya, aku hilang selamanya.

No comments:

Post a Comment